Tak Ada Lirik Cinta, ERK Pantik Perlawanan di We The Fest 2018 | JawaPos.com

RADAR MALANG ONLINE – Dalam gelaran We The Fest (WTF) 2018 tak seperti biasanya, Efek Rumah Kaca (ERK) mengawali penampilan dengan lagu dari album Kamar Gelap. Cholil Mahmud Cs menyapa penonton WTF 2018 pada hari kedua. Penampilan pembuka grup band yang berhasil tampil di festival SXSW (South by South West), Austin Texas beberapa bulan lalu itu dibuka dengan latar panggung berwarna merah.

Jika mengikuti pola penampilan panggung ERK sebelum-sebelumnya, performance selalu diawali dengan lagu dari album Sinestesia. Cholil Cs menempatkan lagu berjudul Putih dari album Sinestesia menjadi lagu kedua. Suasana hening nan syahdu pun menyihir para penonton yang sudah hadir malam itu.

Maklum saja, lagu yang keluar pada 2015 tersebut menyiratkan pesan tentang kematian yang bisa menimpa siapa saja tak mengenal waktu dan tempat.


Efek Rumah Kaca – Di Udara
(YouTube/compstar77)

Aku berbaring dalam mobil ambulan

Dengar, pembicaraan tentang pemakaman

Sirene berlarian bersahut-sahutan

Tegang, membuka jalan menuju tuhan

Begitulah penggalan bait pertama lagu Putih. Seperti halnya lagu-lagu ERK pada album Sinestesia, lagu putih juga terdiri dari dua babak. Pertama, instrumen musik yang disajikan pun lebih kompleks. Durasinya pun lebih panjang dibanding lagu-lagu ERK di album yang lain.

“Gokil, baru lagu pertama udah disuruh inget mati,” cetus salah satu penonton, Jordy yang menanti-nanti penampilan ERK malam itu.

ERK memang bukan band biasa. Lirik lagunya yang penuh makna adalah perlawanan. Baik perlawanan atau kritik terhadap pemerintah maupun fenomena sosial yang terjadi belakangan.

Setelah lagu Putih selesai dibawakan, Cholil pun menjeda. Dia menyapa para penonton yang hadir.

“Selamat malam semua, lagu berikut ini adalah lagu terbaru kami,” kata Cholil.

Cholil Cs membawakan lagu terbaru berjudul Seperti Rahim Ibu yang juga digunakan sebagai lagu acara Mata Najwa. Selanjutnya, ERK kembali ‘berorasi’ di panggung dengan membawakan lagu Di Udara. Tak dipungkiri lagu yang keluar pada 2007 ini merupakan bentuk kekecewaan ERK atas melempemnya kasus yang menimpa aktifis HAM, Munir Said Thalib.

Saat bernyanyi Di Udara, para penonton seakan refleks untuk mengepalkan tangan ke udara. ERK sukses mentransfer energi perlawanan yang selama ini disuarakan oleh Cholil (vokal, gitar), Poppie Airil (bas), Akbar Bagus (drum), Irma Hidayana, Nastasha Abigail, Cempaka Surakusumah (vokal latar), Dito Buditrianto (gitar), Agustinus Panji (trompet), serta Muhammad Asranur (keyboard).

Tak banyak jeda, ERK pun langsung menurunkan tempo pertunjukan dengan melantunkan lagu berjudul Desember. Suasana yang awalnya panas, berubah menjadi lebih slow. Lagu dengan lirik yang amat manis, Desember sukses membuat para penonton terhipnotis dan seakan melempar pikiran hingga berada ke musim hujan pada bulan Desember.

Setelah membawakan Sebelah Mata dari album berjudul sama dengan grup ini, ERK pun menutup penampilan dengan lagu Biru.

Lagi-lagi, ERK kembali menampar siapa saja yang menonton penampilannya malam itu. Sebab, remake dari lagu Pasar Bisa Diciptakan itu merupakan kritik terhadap industri hiburan yang malnutrisi alias itu-itu saja.

Kehadiran ERK pun menjadi pemantik dan menghadirkan warna tersendiri di We The Fest 2018. Sekaligus bukti bahwa kualitas musik dan grup band ini setara dengan grup band maupun musisi internasional lain yang tampil di ajang tahunan tersebut.

Kami mau yang lebih indah

Bukan hanya remah-remah sepah

Segala apa yang kami cinta, bahagia

Di dasar jiwa, di dasar jiwa

Penggalan lirik lagu Biru yang menyempurnakan penampilan ERK, Sabtu (21/7) malam.

video

(uji/JPC)