Ini Keseruan Soundsations 100 Kota 1 Bahasa

Ini Keseruan Soundsations 100 Kota 1 Bahasa

Perkembangan musisi indie pun berprogresif dengan cepat mewarnai genre musik Indonesia dengan menghadirkan karya dengan idealisme mereka masing-masing. Di luar dari kota besar, seperti Jakarta, Bandung dan Yogyakarta, kota-kota lain di Indonesia pun sudah menunjukkan ‘gigi’-nya dengan hadirnya musisi-musisi lokal menawarkan musikalitas yang segar.

Bahkan, komunitas-komunitas yang perkumpulannya didasari oleh genre musik tertentu yang digemari sudah banyak bermunculan. Komunitas ini pula lah yang menggerakan inisiatif-inisiatif untuk mengadakan festival musik dengan satu genre tertentu di kota nya masing-masing.

Seringai – Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan)
(YouTube/seringaiofficial)

Begitu pula yang terjadi pada kancah seni visual di Indonesia, seniman-seniman muda hadir dari berbagai kota dengan ideologi visual mereka masing-masing. Ruang-ruang alternatif pun dijadikan sebagai galeri untuk memajang karya mereka.

Berangkat dari pergerakan seni kreatif di Indonesia inilah, Soundsations 100 Kota 1 Bahasa hadir sebagai ruang berekspresi bagi para penggiat seni kreatif baik itu musik maupun seni visual untuk menyuarakan keberagaman ekspresi.



“Mengamati perjalanan Soundsations dari tahun ke tahun, tentunya Soundsations tahun ini yang mengusung tema 100 Kota 1 Bahasa diadakan secara masif ke banyak kota dari Aceh hingga Papua. Inisiatif dari masing-masing kota untuk mengadakan Soundsations patut diapresiasi. Saya pikir ini adalah inisiatif keren untuk memajukan skena seni kreatif di Indonesia,” kata Ardy Chambers, creative entrepreneur dan pengamat musik, saat jumpa pers di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Soundsations 100 Kota 1 Bahasa yang digelar di awal bulan Februari hingga Juli 2018 tersebar di 100 titik kota di Indonesia. Oleh karena itu, dipastikan akan menyuguhkan deretan penampilan musik dari musisi tanah air dengan berbagai genre dan karya kolaborasi dari berbagai komunitas kreatif.

Farid Stevy, seniman yang tergerak untuk berkolaborasi di Soundsations, mengungkapkan ketertarikannya dalam menyediakan desain mural dan merchandise di 100 titik kota tersebut.

“Desain mural yang saya tawarkan dengan konsep semangat kolektif. Desain mural ini pun saya bagi menjadi 3 sub kategori. Saya antusias tentunya bagaimana desain mural saya ini akan diterjemahkan lewat komposisi warna oleh komunitas kreatif di setiap kota,” jelasnya.

Tidak hanya penampilan musik dan karya kolaborasi komunitas kreatif saja, Soundsations 100 Kota 1 Bahasa pun terdapat ajang jejaring talenta baru bagi para kreator kreatif yang digagas oleh Siasat Partikelir, yakni Alek Kowalski dengan idenya Siasat 100.

Siasat 100 ini merupakan hal yang konkrit kami lakukan untuk menjaring talenta-talenta baru di bidang musik, seni, fotografi dan bidang kreatif lainnya. Diharapkan lewat ajang pencarian talenta ini bisa kami temukan talenta baru dengan ide yang menarik dan segar untuk memajukan skena kreatif di sini,” ucapnya.

Salah satu musisi yang terlibat di Soundsations 100 Kota 1 Bahasa, Iga Massardi mengungkapkan bahwa acara ini adalah momen yang sangat dinantinya. Apalagi, ketika bisa menyaksikan dan berkolaborasi dengan musisi lokal.

“Hal yang paling ditunggu dari Soundsations tahun ini tentunya animo penonton di setiap kota, energinya akan berbeda-beda. Tentunya kami sangat antusias untuk menyajikan penampilan terbaik kami. Apalagi saya juga penasaran dengan karya kolaborasi dari komunitas kreatif di kota-kota yang nanti kami akan manggung,” ujar Iga.

Penampilan musisi lainnya, yaitu Ricky Siahaan selaku gitaris Seringai juga menyampaikan hal yang serupa mengenai Soundsations. Menurutnya, acara ini memberikan kebebasan para seniman tanpa terbatas untuk berekspresi.

“Energi yang akan kami bawa dalam penampilan kami di setiap kota untuk Soundsations tentunya akan besar. Musikalitas yang dibawakan oleh band-band lain pun pastinya akan riuh dengan ekspresi musik mereka masing-masing,” tutupnya.


(ded/JPC)