Hanung Bramantyo Ungkap Beda Bumi Manusia dan Teenlit Saat Diflimkan

Hanung Bramantyo Ungkap Beda Bumi Manusia dan Teenlit Saat Diflimkan

RADAR MALANG ONLINE – Film ‘Bumi Manusia’ yang diangkat dari novel karya sastra Pramoedya Ananta Toer akan tayang serentak di seluruh bioskop di Indonesia pada 15 Agustus 2019. Sang sutradara, Hanung Bramantyo, mengaku tak kesulitan saat memvisualisasikan Bumi Manusia dari novel menjadi sebuah film. Bahkan lebih leluasa dibandingkan menggarap film yang diadaptasi dari novel remaja atau teenlit atauTeen Literature.

Ditemui saat berkunjung ke Graha Pena, Jakarta, Hanung menegaskan, karya Pram sudah sangat filmis dengan gaya penulisan struktur 3 babak yang sama seperti membuat film. Bahkan, ia sampai heran dan kagum bagaimana Pram bisa menulis novel sefilmis itu di usianya yang masih milenial ketika awal menulis novel.

“Ini yang menarik dari Pak Pram. Saya tak tahu, saya hidup dan bertemu beliau pasca keluar dari penjara. Baru bertemu saat beliau sudah umur 60 tahun. Dan saya tak tahu saat beliau pada saat seumur saya 30-an di usia produktif menulis novel atau bahkan umur 20 tahunan. Saya tak tahu Pak Pram belajar dari mana dan pakai referensi apa. Sebab ketika baca Bumi Manusia itu sudah sangat filmis (sudah bercerita seperti film),” papar Hanung saat mampir ke kantor Jawa Pos, Graha Pena, Jakarta, untuk promo film Bumi Manusia, Rabu (18/7).

Dia membandingkan dengan novel karya remaja saat ini yaitu teenlit yang justru lebih banyak mengungkap sisi curhat. Itulah yang membedakan karya legendaris Pram dengan teenlit zaman sekarang. Meski teenlit best seller, Hanung menilai belum tentu akan enak dituangkan dalam jalan cerita film dengan mudah seperti karya Pram.

Sutradara Hanung Bramantyo dan dua pemain film Bumi Manusia Mawar De Jongh, Jerome Kurnina saat kunjungan ke Redaksi Jawa Pos di Jakara (17/7/2019). (Dery Ridwansah/RADAR MALANG ONLINE)

“Misalnya Ayat-Ayat Cinta itu curhat. Secara plottingnya, kami harus melakukan adaptasi. Enggak bisa melakukan bab 1 adalah scene 1. Persoalannya banyak novel sudah Best seller dan terlanjur punya banyak fans. Kami kesulitan menggarapnya sebagai sineas, terpenjara oleh fans novel itu,” ungkap Hanung.

Berbeda dalam buku Bumi Manusia karya Pram di mana bab 1 bisa menjadi scene opening.  Sehingga, saat produksi hanya tinggal menuangkannya menjadi proses yang sederhana.

Hanung mencontohkan dalam film atau novel ada istilah Inciting Incident. Tujuannya agar novel atau film tersebut memiliki lead atau pembuka yang langsung greget sejak awal bagi penonton. Dalam novel Bumi Manusia, Pram sudah memasukkan unsur itu sehingga terciptalah Bumi Manusia secara keseluruhan.

“Di semua film selalu saat sequence pertama, ada inciting incident. Adalah sebuah insiden yang muncul enggak diharapkan oleh tokoh utama/pemainnya. Contoh film Titanic di sequence pertama ketika Leonardo Dicaprio menang judi. Jika tak menang, tak mungkin dia naik kapal kan? Tak akan ada film Titanic kalau saat itu dia kalah poker. Karena dia menang maka ada film Titanic,” jelas Hanung.

Begitu pula saat membaca novel Bumi Manusia. Jika saat itu Minke tak menerima tawaran untuk datang menemui Allenies maka ‘Bumi Manusia’ barangkali tak akan pernah ada. Hingga akhirnya Minke juga bertemu Nyai Ontosoroh yang sangat pintar.

Makanya dalam trailer memang sengaja yang ditonjolkan di awal adalah fokus pada percintaan Minke dan Annelies. Namun lebih dari itu, ini adalah sebuah journey dalam kanvas kolonialisme.

“Barulah babak kedua, film ini bicara Journey si tokoh utama kita, Minke. Karena cinta itu adalah indah berikut tragedi yang menyertainya. Karena quote itu, Minke kembali. Jadi kalau saya tak filmkan itu alangkah bodohnya saya,” tukas Hanung.

Untuk menambah referensi dalam membuat film Bumi Manusia, Hanung memperkaya pengetahuan dan wawasannya soal apapun yang berkaitan dengan Bumi Manusia. Misalnya dengan menonton Bunga Penutup Abad.

Semua tokoh dalam novel Pram sangat kuat dan diceritakan satu persati dengan komprehensif dalam kanvas hukum kolenialisme. ‘Bunga Penutup Abad’ merupakan sebuah pementasan teater yang diadaptasi dari novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa yang termasuk dalam seri novel Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Pementasan iti digelar tahun lalu.

Bumi Manusia merupakan karya pertama dari Tetralogi Buru karya Pram pada 1980. Buku ini ditulis Pram ketika masih diasingkan di Pulau Buru bersama ribuan tahanan politik lain karena dicap sebagai komunis. Film ‘Bumi Manusia’ sendiri akan menghadirkan aktor Iqbaal, Mawar De Jongh, Ine Febriyanti, Ayu Laksmi, DonnyDamara, Giorgino Abraham, Bryan Domanu, Jerome Kurnia, Hans De Krekker, Ciara Brosnan, dan Christian Sugiono.

Film ‘Bumi Manusia’ bercerita tentang Iqbaal sebagai Minke, Mawar Eva De Jongh sebagai Annelies, serta Sha Ine Febrianti sebagai Nyai Ontosoroh. Minke sendiri merupakan salah satu anak pribumi yang sekolah di HBS, sekolah khusus orang keturunan Eropa.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani