Dulang Prestasi, Tahun 2018 BTS Tetap Kena Kontroversi

Dulang Prestasi, Tahun 2018 BTS Tetap Kena Kontroversi

RADAR MALANG ONLINE – Tahun 2018, boleh jadi tahun prestasi BTS. Namun mengikuti itu semua, grup yang digawangi oleh RM, Jin, Jimin, Suga, J-Hope, V, dan Jungkook ini tersandung kontroversi yang cukup serius karena menyangkut hubungan suatu negara. 

Tentu saja kontroversi yang datang di tengah prestasi BTS menjadi bumbu tersendiri bagi mereka. Semakin tinggi terbang maka akan semakin kencang pula goncangan angin yang dirasakan. Hal ini tentu saja sangat wajar dialami seseorang.

Usai menggelar tur fenomenal di Amerika dan Eropa, BTS tiba-tiba saja tersandung kontroversi yang melibatkan hubungan Korea dan Jepang. Awalnya, BTS pada 9 November, mereka dijadwalkan tampil di acara Music Station di Jepang, namun BTS yang dijadwalkan terbang ke Jepang pada 8 November tak terlihat di bandara. Rupanya para member BTS tak jadi pergi ke Jepang karena tampilnya mereka di acara tersebut dibatalkan.

Jimin BTS mengenakan kaus kontroversial (Koreaboo)


Alasan penundaan tampilnya BTS di acara tersebut dikarenakan kaus yang dipakai Jimin beberapa waktu lalu. Saat itu Jimin memakai kaus yang bertuliskan tentang kemerdekaan dan pembebasan Korea dari penjajahan Jepang.

Dalam kaus tersebut, selain terdapat tulisan, juga terdapat foto dari bom nuklir yang menimpa kawasan Hiroshima dan Nagasaki pada 1945. Akibatnya, BTS dituduh oleh media di Jepang bahwa mereka sebenarnya anti terhadap negara tersebut.

Media itu juga mengompilasi bukti-bukti yang menunjukkan bahwa BTS anti-Jepang selain kaus yang dikenakan Jimin, yakni twit yang ditulis RM pada 2013 lalu saat peringatan hari kemerdekaan Korea.

Tidak hanya di Music Station yang ditayangkan Asahi TV, rencana BTS tampil di Kōhaku Uta Gassen, acara musik akhir tahun paling populer di Jepang yang ditayangkan stasiun televisi NHK, telah memilih untuk tidak mengundang mereka setelah pertimbangan yang cukup panjang. Padahal di awal tahun ini, banyak yang menantikan BTS akan tampil dan diundang untuk pertama kalinya di acara akhir tahun tersebut. BTS juga batal tampil di acara FNS Music Festival terkait dengan kontroversi tersebut.

Kendati demikian kontroversi tersebut tidak membuat BTS membatalkan konser Love Yourself tur-nya di Jepang yang sudah dijadwalkan sebelumnya. Bahkan para penggemar masih menyambut kedatangan BTS di bandara serta memadati konsernya yang digelar di Tokyo dan Osaka itu. Tidak hanya itu, di tengah kontoversi yang muncul, album Jepang BTS yang baru dirilis juga malah memuncaki chart musik Jepang, Oricon. Album tersebut memuat lagu Fake Love dan Airplane pt.2 versi Jepang.

Belum selesai masalah kontroversi kaus yang dikenakan oleh Jimin BTS itu, muncul lagi masalah baru. BTS tiba-tiba saja dituntut untuk meminta maaf kepada korban Holocaust oleh Asosiasi Hak Azasi Manusia Yahudi, Simon Wiesenthal Center. Mereka mengecam BTS karena penampilan salah satu anggota mereka, RM yang mengenakan topi ala Nazi beberapa waktu sebelumnya.

Asosiasi Simon Wiesenthal Center juga mengkritik BTS yang dianggap telah mengejek masa lalu Jepang dengan mengenakan kaus bergambar pengeboman Kota Hiroshima dan Nagasaki. 

“Mengenakan kaus di Jepang mengejek para korban bom hanya insiden baru yang diciptakan grup ini untuk mengejek masa lalu,” ujar Rabi Abraham Cooper, Dekan dari Asosiasi Simon Wiesenthal Center yang berbasis di Los Angeles, Amerika.

Ia melanjutkan, foto teaser BTS yang dirilis awal 2015 lalu juga telah menjadi kesalahan BTS lainnya. Dalam foto tersebut, RM BTS mengenakan topi dengan simbol Death Head Unie (SS-Totenkopfverbändeand), organisasi yang mengelola kamp konsentrasi dari Nazi.

Di saat yang sama, Cooper juga mempresentasikan foto-foto anggota BTS yang berpose di Holocaust Memorial di Berlin serta video mereka yang mengibarkan bendera yang terlihat mirip dengan bendera swastika Nazi di atas panggung.

“Kelompok yang diundang bicara di PBB, berutang pada orang-orang Jepang dan korban para Nazisme harus meminta maaf. Tapi itu tidak cukup. Jelas bahwa mereka yang merancang dan mempromosikan karir grup itu terlalu nyaman dengan merendahkan ingatan masa lalu. Hasilnya adalah generasi muda di Korea dan seluruh dunia lebih mungkin untuk mengidentifikasi kefanatikan dan intoleransi sebagai hal yang keren dan membantu menghapus pelajaran sejarah,” terangnya.

Ia pun meminta agensi BTS, Big Hit Entertainment meminta maaf secara terbuka disamping para member BTS sendiri. Tak lama setelah itu, Big Hit Entertainment pun merilis permohonan maaf secara resmi pada 13 November. Big Hit mengatakan, pihaknya meninjau beberapa isu yang menimpa BTS, mulai dari kaus yang dipakai Jimin bergambar pengeboman kota Hiroshima hingga topi yang dipakai RM yang dituduh bergambar simbol Nazi.

“Ini adalah isu-isu yang telah kami tinjau. Pertama, artis kami mengenakan kaus bergambar bom atom. Kedua, artis kami mengenakan topi dengan simbol Nazi dalam pemotretan terdahulu untuk sebuah media Korea. Ketiga, artis kami menggunakan bendera dengan gambar simbol Nazi ketika tampil di sebuah konser,” katanya seperti dilansir dari Soompi.

Ia melanjutkan, dalam mempromosikan BTS dan semua artisnya, Big Hit sama sekali tidak mendukung perang atau bom atom. Mereka memastikan menentang hal seperti itu dan tidak akan mengulanginya di masa yang akan datang. Mereka juga memastikan tidak bermaksud menyebabkan kerugian pada korban bom atom.

“Dalam promosi BTS serta semua artis kami, Big Hit tidak mendukung segala bentuk totalitarianisme, termasuk Nazisme atau kelompok dengan tendensi politik yang radikal. Kami menentang hal seperti itu dan tidak bermaksud membahayakan korban dari sejarah kelompok tersebut. Tidak akan ada lagi masalah seperti ini ke depannya,” lanjutnya.

“Ini permintaan maaf kami untuk masalah yang disebutkan di atas. Tentang item baju dengan gambar bom atom, seperti yang kami nyatakan di atas, itu tidak dilakukan dengan maksud apapun. Kami telah menegaskan bahwa baju itu tidak diproduksi dengan maksud menyebabkan kerusakan pada korban bom atom. Namun jelas bahwa bahaya mungkin disebabkan secara tidak sengaja kepada korban saat kaus itu dipakai tanpa persiapan dan tidak melihat dampaknya. Kami mohon maaf dengan tulus karena hal itu bepotensi menyebabkan ketidaknyamanan melalui penampilan artis kami yang terhubung dengan gambar bom atom tersebut.”

“Mengenai topi dengan simbol Nazi yang dipakai saat pemotretan terdahulu, seperti yang kami nyatakan di atas, itu tidak dilakukan dengan maksud apapun. Pakaian dan aksesoris yang digunakan dalam pemotretan diberikan kepada kami oleh media outlet yang melakukan pemotretan. Artis kami akhirnya memakainya karena ketidakmampuan kami mengecek sebelumnya sehingga bahaya mungkin disebabkan secara tidak sengaja kepada para korban Nazisme. Kami dengan tulus meminta maaf karena menyebabkan ketidaknyamanan melalui penampilan artis kami yang terhubung dengan citra Nazi.”

Big Hit juga menyampaikan bahwa pihaknya ingin menyatakan dengan jelas bahwa tanggung jawab untuk masalah-masalah yang menimpa BTS berada di pihak mereka karena tidak bisa mendukung artisnya dengan baik. Pasalnya, katanya, artisnya, dalam hal ini adalah BTS memiliki jadwal yang sangat padat sehingga kondisi dan tanggung jawab untuk masalah tersebut tidak dilakukan oleh mereka sendiri.

Sementara itu, tentang pengibaran bendera bersimbol Nazi yang dilakukan BTS dalam sebuah konser, dikatakannya konser tersebut merupakan konser anniversary dari artis Korea legendaris, Seo Taiji pada tahun 2017. Pertunjukkan di konser tersebut dibangun di sekitar pesan sosial untuk mengkritik kenyataan tentang standar pendidikan.

“Gambar pada bendera adalah karya seni yang tidak ada hubungannya dengan Nazisme. Pesan dari pertunjukkan tersebut adalah untuk mengkritik standarisasi sistem pendidikan secara total. Namun penampilan menjadi bermasalah karena dikaitkan dengan Nazisme, hal itu tidak benar sama sekali. Sebenarnya pertunjukan itu dimaksudkan untuk mengkritik realitisme totaliter semacam itu,” jelasnya.

Big Hit juga berjanji akan melakukan yang terbaik untuk mereformasi masalah-masalah yang sempat muncul ini. Terlebih, moto mereka adalah memberikan kenyamanan dan emosi kepada dunia melalui musik dan artisnya.

“Merupakan tantangan bagi kami untuk mempertimbangkan banyak elemen yang muncul di kehidupan yang beragam dan toleransi, tetapi kami melakukan yang terbaik untuk memenuhi tugas itu. Ke depan, atas dasar pemahaman kami, tidak hanya untuk masalah ini tetapi juga berbagai latar belakang seperti sosial, sejarah, dan budaya. Big Hit dan artis kami akan lebih berhati-hati mempertimbangkan rincian promosi kami sehingga tidak membahayakan orang lain. Sekali lagi, kami mohon maaf,” tutupnya.

Setelah melayangkan permintaan maaf, asosiasi tersebut pun menerima maaf Big Hit tersebut dan meminta mereka untuk lebih berhati-hati. Kendati demikian, BTS terus mencetak prestasi-prestasi lainnya hingga akhir 2018 ini dengan memenangkan berbagai penghargaan dan masuk ke dalam berbagai daftar populer di dunia.

(dmp/JPC)